the kania..
i use my brain to feel.. i use my heart to think..
i use my brain to feel.. i use my heart to think..
1 tahun kemudian, di sebuah pesta pernikahan.
Sebuah pernikahan yang dikemas begitu mewah. Konsep yang brilliant, sudah kurasakan sedari aku mengisi buku tamu. Para undangan pun, terseleksi. Sebagian besar, semua pria memakai dasi. Beberapa ada yang mengenakan batik, namun di belakang pria berkemeja batik itu, berdiri 2 pengawal yang memakai safari. Sedangkan kaum hawa, berperang gaun dan perhiasan. Dari kalung mutiara, anting permata sampai gelang-gelang emas berkilauan mengusik lensa mataku. Sedangkan aku, masih seperti biasa. Kemeja yang kukenakan adalah kemeja satu-satunya yang masih layak pakai di sebuah acara formal. Warnanya coklat, dasiku hitam. Celana bahanku sedikit kebesaran dan sepatu kulitku, untungnya masih bisa dipoles sampai mengkilap. Lagi-lagi aku tidak memakai jam tangan, karena aku lupa menyimpan di mana. Kemudian aku melangkah masuk kedalam dengan langkah lebih cepat, kedatanganku lumayan telat.
Samar ingatanku tentang siapa Damar, tetapi aku hanya tahu sedikit tentangnya. Dia, dia hanyalah seorang lelaki beruntung yang berhasil mengambil hati wanita yang amat kucintai. Ya, dia adalah siapa yang mungkin ada disamping mantan kekasihku detik ini. Tidak kusangka, dialah yang merancang semuanya.
*
“TAKUT PADA KARMA?” Aku terkejut waktu mendengar cerita si artis itu.